Thursday, April 2, 2015

Analisis Nilai Investasi Proyek

Merupakan metode pemilihan proyek berdasarkan analisis nilai investasi proyek. Beberapa pendekatan yang dapat digunakan antara lain : analisis NPV (Net Present Value), ROI (Return on Investment), analisis periode pengembalian (Payback Analysis) dan model skor terbobot.
 Net Present Value (NPV)
Metode ini merupakan metode yang memperhitungkan pola cash flows keseluruhan dari suatu investasi, dalam kaitannya dengan waktu, berdasarkan discount rate
5
tertentu. Dengan metode ini, nilai investasi saat ini dapat dianalisis apakah
memberikan keuntungan atau kerugian dalam beberapa tahun mendatang
berdasarkan perkiraan cashflow dan discount rate-nya. Hanya proyek-proyek yang
memiliki NPV positif lah yang direkomendasikan layak dilaksanakan. NPV positif
mencerminkan sebuah keuntungan, dimana nilai pengembalian investasi proyek
dalam beberapa tahun ke depan akan melebihi biaya atau modal yang telah
dikeluarkan. Dengan kata lain keuntungan lebih besar dari biaya investasi. Dan jika
terdapat 2 atau lebih proyek dengan NPV positif maka dapat dipilih proyek dengan
NPV positif terbesar. Untuk menghitung NPV, dilakukan dengan tahap-tahap
berikut :
- Hitung cashflow project berdasarkan perkiraan inflows (keuntungan) dan
outflows (biaya) untuk tiap-tiap tahun. Cashflow untuk setiap tahun dihitung
dari selisih antara keuntungan dan biaya.
- Hitung faktor diskonto (discount factor, DF). Discount factor dihitung
berdasarkan Discount Rate dengan rumus DF = 1/(1+r)t. Discount rate
adalah tingkat keuntungan yang diharapkan atau tingkat kemampuan
pengembalian minimum.
- Hitung NPV. Terdapat beberapa cara menghitung NPV. Jika kita
menggunakan software-software spreadsheet, biasanya sudah menyediakan
fungsi NPV. Misalnya pada MS Excel. Dapat juga menggunakan rumus
matematika :



t n
t a r
A
NPV
1.. ( )
dimana t = cash flow pada tahun ke, A = jumlah cashflow tiap tahun dan r =
discount rate.
Contoh : Misalkan diketahui proyek A memerlukan investasi sebesar $ 9000 dan
proyek B memerlukan $10000. Jika diasumsikan discount rate nya sebesar 10% maka
lakukan analisis proyek mana yang direkomendasikan untuk dilaksanakan jika
diketahui cashflow untuk masing-masing proyek dalam 5 tahun kedepan adalah
sebagai berikut :
Proyek A Tahun Ke 1 Tahun Ke 2 Tahun Ke 3 Tahun Ke 4 Tahun Ke 5 Total
Benefit $ - $ 2,000 $ 3,000 $ 4,000 $ 5,000 $ 14,000
Cost $ 5,000 $ 1,000 $ 1,000 $ 1,000 $ 1,000 $ 9,000
Proyek B Tahun Ke 1 Tahun Ke 2 Tahun Ke 3 Tahun Ke 4 Tahun Ke 5 Total
Benefit $ 1,000 $ 2,000 $ 4,000 $ 4,000 $ 4,000 $ 15,000
Cost $ 2,000 $ 2,000 $ 2,000 $ 2,000 $ 2,000 $ 10,000
Discount rate diketahui 10% atau 0.1, maka discount factor (DF) untuk tiap-tiap
tahun :
Tahun 1 : DF = 1/(1+0.1)1 = 0.91
Tahun 2 : DF = 1/(1+0.1)2 = 0.83
Tahun 3 : DF = 1/(1+0.1)3 = 0.75
Tahun 4 : DF = 1/(1+0.1)4 = 0.68
Tahun 5 : DF = 1/(1+0.1)5 = 0.62
Sehingga perhitungan NPV untuk proyek A dan proyek B adalah sebagai berikut :
6
DISCOUNT RATE 10%
Proyek A Tahun Ke 1 Tahun Ke 2 Tahun Ke 3 Tahun Ke 4 Tahun Ke 5 Total
Benefit $ - $ 2,000 $ 3,000 $ 4,000 $ 5,000 $ 14,000
Cost $ 5,000 $ 1,000 $ 1,000 $ 1,000 $ 1,000 $ 9,000
Cashflow $ (5,000) $ 1,000 $ 2,000 $ 3,000 $ 4,000 $ 5,000
DF 0.909 0.826 0.751 0.683 0.621
Cashflow
Setelah $ (4,545) $ 826 $ 1,503 $ 2,049 $ 2,484 $ 2,316 =SUM(C18:G18)
diskonto NPV atau dengan fungsi
=NPV(D11,C15:G15)
=C15*C16
Proyek B Tahun Ke 1 Tahun Ke 2 Tahun Ke 3 Tahun Ke 4 Tahun Ke 5 Total
Benefit $ 1,000 $ 2,000 $ 4,000 $ 4,000 $ 4,000 $ 15,000
Cost $ 2,000 $ 2,000 $ 2,000 $ 2,000 $ 2,000 $ 10,000
Cashflow $ (1,000) $ - $ 2,000 $ 2,000 $ 2,000 $ 5,000
DF 0.909 0.826 0.751 0.683 0.621
Cashflow
Setelah $ (909) $ - $ 1,503 $ 1,366 $ 1,242 $ 3,201 =SUM(C29:G29)
diskonto NPV atau dengan fungsi
=NPV(D11,C26:G26)
=C26*C27
Tampak bahwa proyek A dan B memiliki nilai cashflow (sebelum diskonto) yang
sama sebesar $5000 dengan NPV masing-masing bernilai positif. Akan tetapi setelah
memperhitungkan nilai diskonto, proyek B memiliki NPV yang lebih besar dibanding
proyek A, maka proyek B dapat diprioritaskan untuk dilaksanakan dibanding proyek
A.
 Return on Investment (ROI)
Merupakan metode untuk menganalisis tingkat pengembalian investasi. Nilai ROI
dihitung berdasarkan perbandingan antara pendapatan (keuntungan) dengan nilai
investasi. Misalnya kita berinvestasi sebesar $100 pada hari ini, kemudian tahun
berikutnya nilai investasi menjadi senilai $110 maka ROI = $110/$100 = 0.1 atau
10%. Nilai ROI ini juga ditentukan oleh discount rate. Pada contoh di atas, nilai ROI
untuk proyek A dan proyek B masing-masing adalah sebagai berikut :
DISCOUNT RATE 10%
Proyek A Tahun Ke 1 Tahun Ke 2 Tahun Ke 3 Tahun Ke 4 Tahun Ke 5 Total
Benefit $ - $ 2,000 $ 3,000 $ 4,000 $ 5,000 $ 14,000
Cost $ 5,000 $ 1,000 $ 1,000 $ 1,000 $ 1,000 $ 9,000
Cashflow $ (5,000) $ 1,000 $ 2,000 $ 3,000 $ 4,000 $ 5,000
DF 0.909 0.826 0.751 0.683 0.621
Setelah diskonto
Benefit $ - $ 1,653 $ 2,254 $ 2,732 $ 3,105 $ 9,743
Cost $ 4,545 $ 826 $ 751 $ 683 $ 621 $ 7,427
ROI 31.19%
=(H41-H42)/H42*100%
Proyek B Tahun Ke 1 Tahun Ke 2 Tahun Ke 3 Tahun Ke 4 Tahun Ke 5 Total
Benefit $ 1,000 $ 2,000 $ 4,000 $ 4,000 $ 4,000 $ 15,000
Cost $ 2,000 $ 2,000 $ 2,000 $ 2,000 $ 2,000 $ 10,000
Cashflow $ (1,000) $ - $ 2,000 $ 2,000 $ 2,000 $ 5,000
DF 0.909 0.826 0.751 0.683 0.621
Setelah diskonto
Benefit $ 909 $ 1,653 $ 3,005 $ 2,732 $ 2,484 $ 10,783
Cost $ 1,818 $ 1,653 $ 1,503 $ 1,366 $ 1,242 $ 7,582
ROI 42.23%
=(H52-H53)/H53*100%
7
Tampak bahwa proyek B memiliki nilai ROI yang lebih besar dibanding proyek A,
sehingga proyek B layak untuk dipilih sebagai proyek potensial.
 Payback Analysis
Analisis pengembalian (payback analysis) adalah metode untuk mengetahui periode
waktu pengembalian (payback period). Artinya seberapa lama waktu yang dibutuhkan
agar nilai investasi proyek akan memberikan keuntungan. Payback period dihitung
berdasarkan nilai kumulatif cashflow dari tahun ke tahun setelah diskonto. Payback
period akan dicapai jika nilai kumulatif cashflow setelah diskonto bernilai positif. Dari
contoh di atas, payback period proyek A dicapai pada tahun ke-5 sedangkan proyek B
akan dicapai pada tahun ke-3. Dengan demikian proyek B layak untuk diprioritaskan
karena periode pengembalian investasi proyek lebih singkat dibanding proyek A.
DISCOUNT RATE 10%
Proyek A Tahun Ke 1 Tahun Ke 2 Tahun Ke 3 Tahun Ke 4 Tahun Ke 5 Total
Benefit $ - $ 2,000 $ 3,000 $ 4,000 $ 5,000 $ 14,000
Cost $ 5,000 $ 1,000 $ 1,000 $ 1,000 $ 1,000 $ 9,000
Cashflow $ (5,000) $ 1,000 $ 2,000 $ 3,000 $ 4,000 $ 5,000
DF 0.909 0.826 0.751 0.683 0.621
Setelah diskonto
Benefit $ - $ 1,653 $ 2,254 $ 2,732 $ 3,105 $ 9,743
Cost $ 4,545 $ 826 $ 751 $ 683 $ 621 $ 7,427
Cashflow $ (4,545) $ 826 $ 1,503 $ 2,049 $ 2,484 $ 2,316
Cumulative $ (4,545) $ (3,719) $ (2,216) $ (167) $ 2,316 $ 4,633
Payback Period
Tahun ke-5
Proyek B Tahun Ke 1 Tahun Ke 2 Tahun Ke 3 Tahun Ke 4 Tahun Ke 5 Total
Benefit $ 1,000 $ 2,000 $ 4,000 $ 4,000 $ 4,000 $ 15,000
Cost $ 2,000 $ 2,000 $ 2,000 $ 2,000 $ 2,000 $ 10,000
Cashflow $ (1,000) $ - $ 2,000 $ 2,000 $ 2,000 $ 5,000
DF 0.909 0.826 0.751 0.683 0.621
Setelah diskonto
Benefit $ 909 $ 1,653 $ 3,005 $ 2,732 $ 2,484 $ 10,783
Cost $ 1,818 $ 1,653 $ 1,503 $ 1,366 $ 1,242 $ 7,582
Cashflow $ (909) $ - $ 1,503 $ 1,366 $ 1,242 $ 3,201
Cumulative $ (909) $ (909) $ 594 $ 1,960 $ 3,201 $ 6,403
Payback Period
Tahun ke-3
Model Skor Terbobot (Weighted Scoring Model)
Merupakan alat bantu (tool) pemilihan proyek secara sistematis berdasarkan kriteria-kriteria
tertentu. Beberapa kriteria untuk menilai kelayakan proyek antara lain :
 Dukungan pada sasaran bisnis utama
 Kekuatan sponsor internal
 Kekuatan dukungan kustomer
 Tingkat penggunaa teknologi
 Dapat diimplementasikan dalam 1 tahun atau kurang
 Nilai NPV positif
 Tingkat resiko yang rendah (waktu, biaya, scope)
8
Bobot masing-masing kriteria dapat disesuaikan dengan aspek masing-masing kriteria
terhadap nilai proyek. Setiap proyek diberi skor sesuai masing-masing kriteria dan selanjutnya
dihitung nilai akhir dengan rumus :
Skor Proyek =
i n
i i S B
1..
dimana Si adalah skor kriteria ke-i dan Bi adalah bobot kriteria ke-i.
Sebagai contoh :
No Kriteria Bobot Proyek
A B C D
1 Mendukung sasaran bisnis 25% 90 90 50 20
2 Memiliki sponsor internal yang kuat 15% 70 90 50 20
3 Memiliki dukungan kustomer yang kuat 15% 50 90 50 20
4 Tingkat penggunaan teknologi 10% 25 90 50 70
5 Dapat diimplementasi dalam 1 thn atau
kurang
5% 20 20 50 90
6 NPV positif 20% 50 70 50 50
7 Resiko scope, waktu dan biaya rendah 10% 20 50 50 90
Skor Proyek Terboboti 100% 56 78.5 50 41.5
Cara menghitung Skor Proyek Terboboti :
Proyek A = 90*25%+70%15%+50*15%+25*10%+20*5%+50*20%+20*10% = 56
Proyek B = 90*25%+90%15%+90*15%+90*10%+20*5%+70*20%+50*10% = 78.5
Proyek C = 50*25%+50%15%+50*15%+50*10%+50*5%+50*20%+50*10% = 50
Proyek D = 20*25%+20%15%+20*15%+70*10%+90*5%+50*20%+90*10% = 41.5
Tampak bahwa proyek B memiliki skor tertinggi berdasarkan 7 kriteria terboboti yang sudah
ditentukan, sehingga proyek B layak mendapat prioritas untuk dilaksanakan.

0 comments:

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More