Wednesday, April 1, 2015

. perhitungan Analisis Nilai Investasi Proyek

 Net Present Value (NPV) Metode ini merupakan metode yang memperhitungkan pola cash flows keseluruhan dari suatu investasi, dalam kaitannya dengan waktu, berdasarkan discount rate 5 tertentu. Contoh : Misalkan diketahui proyek A memerlukan investasi sebesar $ 9000 dan proyek B memerlukan $10000. Jika diasumsikan discount rate nya sebesar 10% maka lakukan analisis proyek mana yang direkomendasikan untuk dilaksanakan jika diketahui cashflow untuk masing-masing proyek dalam 5 tahun kedepan adalah sebagai berikut : Discount rate diketahui 10% atau 0.1, maka discount factor (DF) untuk tiap-tiap tahun : Tahun 1 : DF = 1/(1+0.1)1 = 0.91 Tahun 2 : DF = 1/(1+0.1)2 = 0.83 Tahun 3 : DF = 1/(1+0.1)3 = 0.75 Tahun 4 : DF = 1/(1+0.1)4 = 0.68 Tahun 5 : DF = 1/(1+0.1)5 = 0.62 Sehingga perhitungan NPV untuk proyek A dan proyek B adalah sebagai berikut : Tampak bahwa proyek A dan B memiliki nilai cashflow (sebelum diskonto) yang sama sebesar $5000 dengan NPV masing-masing bernilai positif. Akan tetapi setelah memperhitungkan nilai diskonto, proyek B memiliki NPV yang lebih besar dibanding proyek A, maka proyek B dapat diprioritaskan untuk dilaksanakan dibanding proyek A.  Return on Investment (ROI) Merupakan metode untuk menganalisis tingkat pengembalian investasi. Nilai ROI dihitung berdasarkan perbandingan antara pendapatan (keuntungan) dengan nilai investasi. Misalnya kita berinvestasi sebesar $100 pada hari ini, kemudian tahun berikutnya nilai investasi menjadi senilai $110 maka ROI = $110/$100 = 0.1 atau 10%. Nilai ROI ini juga ditentukan oleh discount rate. Pada contoh di atas, nilai ROI untuk proyek A dan proyek B masing-masing adalah sebagai berikut : Tampak bahwa proyek B memiliki nilai ROI yang lebih besar dibanding proyek A, sehingga proyek B layak untuk dipilih sebagai proyek potensial.  Payback Analysis Analisis pengembalian (payback analysis) adalah metode untuk mengetahui periode waktu pengembalian (payback period). Artinya seberapa lama waktu yang dibutuhkan agar nilai investasi proyek akan memberikan keuntungan. Payback period dihitung berdasarkan nilai kumulatif cashflow dari tahun ke tahun setelah diskonto. Payback period akan dicapai jika nilai kumulatif cashflow setelah diskonto bernilai positif. Dari contoh di atas, payback period proyek A dicapai pada tahun ke-5 sedangkan proyek B akan dicapai pada tahun ke-3. Dengan demikian proyek B layak untuk diprioritaskan karena periode pengembalian investasi proyek lebih singkat dibanding proyek A.  Model Skor Terbobot (Weighted Scoring Model) Merupakan alat bantu (tool) pemilihan proyek secara sistematis berdasarkan kriteria-kriteria tertentu. Beberapa kriteria untuk menilai kelayakan proyek antara lain :  Dukungan pada sasaran bisnis utama  Kekuatan sponsor internal  Kekuatan dukungan kustomer  Tingkat penggunaa teknologi  Dapat diimplementasikan dalam 1 tahun atau kurang  Nilai NPV positif  Tingkat resiko yang rendah (waktu, biaya, scope) Bobot masing-masing kriteria dapat disesuaikan dengan aspek masing-masing kriteria terhadap nilai proyek. Setiap proyek diberi skor sesuai masing-masing kriteria dan selanjutnya dihitung nilai akhir dengan rumus : Skor Proyek =n i i i B S .. 1 dimana Si adalah skor kriteria ke-i dan Bi adalah bobot kriteria ke-i. Cara menghitung Skor Proyek Terboboti : Proyek A = 90*25%+70%15%+50*15%+25*10%+20*5%+50*20%+20*10% = 56 Proyek B = 90*25%+90%15%+90*15%+90*10%+20*5%+70*20%+50*10% = 78.5 Proyek C = 50*25%+50%15%+50*15%+50*10%+50*5%+50*20%+50*10% = 50 Proyek D = 20*25%+20%15%+20*15%+70*10%+90*5%+50*20%+90*10% = 41.5 Tampak bahwa proyek B memiliki skor tertinggi berdasarkan 7 kriteria terboboti yang sudah ditentukan, sehingga proyek B layak mendapat prioritas untuk dilaksanakan.

0 comments:

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More